Sanro beserta rombongan mulai mengarak ayam dengan berjalan dari berbagai tempat ke Lapangan Mabbaranie, tempat Sirawu Sulo berlangsung. Bokep simontok Hujan masih turun. Lebih baik kau bantu Indo membereskan rumah. Saya yang tentu mendengarnya karena duduk tepat di belakang Indo angkat bicara.“Serius, Ambo? Ambo sontak menatap saya tajam. Lelaki bertubuh tambun itu tiba-tiba saja meninggal padahal kata anaknya, dia masih kuat pagi hari dan masih sempat memakan satu mangkuk soto kuda.“Ushh, kau ini. Lancang saya meninggikan suara di hadapan beliau.Tapi Ambo tak terima. Setelah sejak lama hingga usia saya mencapai dua puluh empat tahun, rumah kami selalu diramaikan dengan suara bernada rendah, kalau pun bernada tinggi hanya saat Ambo berteriak karena tulang betisnya




















