Nafasnya terdengar semakin memburu. Simontok Aku bertanya:
“mana lagi Cah Sara, yg dicium si Kartolo?”, Juminten sekarang menunjuk belakang telinganya, dan jarinya turun menyelusur leher:
“di sini Kakek..” katanya. Kurasakan puting itu semakin membesar dan mengeras. Yg penting duit masuk terus, jauh lebih besar daripada gajiku saat masih bekerja di pabrik konveksi. Sebelumnya aku hanya dapat bermain dgn lonthe-lonthe, atau paling banter dgn si Jaetun janda muda yg gatel di desa sebelah. Aku dapat menolongmu, namun itu sangat berbahaya. katanya tersenyum.Juminten tentu saja semakin kesal: “bahagia bagaimana to Pak?” tanyanya:
“Wong sudah mbasahin baju tidak bilang-bilang, masih juga mbujuk-mbujuk segala.”pak Kartolo katanya hanya tersenyum senyum saja dan menjawab:
“wong bocah cilik, durung ngerti (belum mengerti) roso




















