Ramah langsung pergi menaiki mobil laki-laki itu untuk meninggalkan café. Bokep Jepang Sekali-sekali dirinya menggigil menahan dinginnya cuaca malam itu. Aku sempat kaget tengah malam kegini siapa lagi yang menghubungiku terlintas dalam benak aku. Waktu itu Ramah masih duduk di bangku SMA Swasta kelas dua di Medan. Ramah coba-coba ingin merubah nasip menjual diri di café-café dengan. Tapi itupun kalau abang mendesakku nanti ada waktunya bang, Ramah akan ceritakan semuanya buat abang. Sewaktu dalam perjalanan Ramah memeluk aku sangat kencang sepertinya takut kehilangan. Hubungan baik itu melalui telepon atau ketemu disekolah terus berlanjut. Kamipun sampai dalam tujuan, aku kaget Ramah rupanya sudah dikenal dicafé tersebut.




















