Pelan-pelan Artika kembali merasakan gejolak seksualnya bangkit, dan
akhirnya dia pasrah digeluti oleh tubuh hitam besar itu sehingga ketika
Wewengko membuka kain yang menutupi tubuhnya, Artika hanya diam saja.“Dingin Tuan…” Artika mendekapkan tangannya ke payudaranya
yang putih kenyal dan telanjang.“Jangan khawatir… Sebentar lagi juga panas…” kata Weengko tersenyum
sambil menatap mata Artika yang bening dengan penuh arti. Simontok Dia segera beringsut mundur
ke sudut ranjang sambil mendekap tubuhnya yang hanya tertutup selimut
usang sambil menangis.“Jangan Tuan.. Artika memandangi barang yang dilemparkan oleh wanita Papua itu,
pakaian yang dimaksud oleh wanita Papua itu hanya berupa
potongan-potongan bahan semacam kulit binatang. Wewengko yang
mengetahui Artika sudah pasrah makin bersemangat. Seluruh
perlakuan itu diterima Artika berulang ulang, Artika sampai merasa hal
ini tidak akan pernah berhenti




















