”, ucapku belum sadar.“ Nanti kalau dingin biar Papi hangatin deh Nak, Gimana ? Setealah jadi lalu aku memberikan Teh itu kepada Papi,“ Ini Teh hangat-nya Pi ”, ucapku sembari memberikan Teh hangatnya.“ Wah, pintar sekali nih anak Papi, terimakasih ya anakku cantik tersayang, ”, jawab Papi memuji aku.Pada waktu aku memberikan Teh hangat kepada Papi, saat itu Papi meliirik kearah buah dadaku ketika aku membungkuk saat memberikan Teh. Simontok karna Ia sama sekali belum memperlihatkan tanda-tanda akan keluar.Lalu seketika, aku megarahkan batang kejantanan Papiku kedalam kewanitaanku yang sangat menderita karena sudah 5 bulan tidak merasakan batang kejantanan dari pacarku, dan ukuran ayahku lebih besar dari pacarku.




















