Kulihat dia terkejut dengan ucapanku yang sekenanya.“Berteman tidak ada kata kaya atau miskin, atau dibatasi dengan suku atau bangsa” katanya lirih, sambil meraih tanganku. Simontok Penggaris aku siapkan dan aku masukkan pada buku status pasien.Seperti biasa, pagi pagi jam 5.00 aku siap memandikan Jack. Saat aku masuk kamarnya dia membaca buku di sofa panjang.Kami mengobrol banyak, tentang waktu dia kuliah di Inggris, tentang anaknya dan akhirnya obrolan sampai di momen saat aku mengeluarkan spermanya. Dan dia sudah kelihatan segar, walaupun tubuhnya masih agak lemah. Aku tersenyum dan kubalas ciuman di pipinya. “Terima kasih Rin, kamu baik sekali” ujarnya sambil membelai-belai tanganku. Kurapatkan kakiku dengan tubuh mengejang.




















